Bengkalis – Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) mengelar kuliah umum, yang menghadirkan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai narasumber, dengan mengambil tema “Mengembangkan wawasan keislaman dan kemelayuan untuk mempercepat alih status STAIN Bengkalis menuju IAIN Bengkalis, Sabtu (11/3).
Ketua STAIN Bengkalis Prof. Dr. H Samsul nizar, M.Ag dalam sambutannya menyampaikan bahwa Kampus STAIN Bengkalis dengan gelar Kampus Melayu tidak semestinya mahasiswanya orang melayu. Ia juga menjelaskan apa itu melayu versi Kampus melayu itu sendiri, yaitu Mandiri, Empati, Luhur, Amanah, Yakin, Unggul.
“dengan mewujudkan arti melayu tadi, kami berharap bisa terimplementasi dari arti melayu tersebut sehingga terwujudnya harapan untuk menjadikan status STAIN menjadi IAIN supaya telahir ulama-ulama dari instansi ini”, kata Samsul Nizar
Dikatakan Profesor kelahiran Desa Pambang Bengkalis ini, terobosan-terobosan bar uterus dilakukan oleh manajemen kampus untuk alih status ini, sebagai mana diketahui STAIN Bengkalis mendapatkan alih status dari swata ke Negeri yang peremiannya langsung dilakukan oleh Mentri Agama RI H. Lukman Hakim Saefudin, dan saat ini STAIN Bengkalis telah memiliki 14 program studi (studi).
“menghadirkan Profesor Yuldian Wahyudi sebenarnya adalah untuk memberikan motivasi penguatan bagi kelembagaan kita dalam rangka alih status STAIN menjadi IAIN” ujarnya
Sementara itu Prof. Drs KH Yudian Wahyudi PhD, dalam orasinya menyampaikan tentang pentingnya mengintegrasikan sains dalam peradaban sebagai langkah strategis untuk mewujudkan kemajuan dunia Islam, Menurut Profesor yang merupakan alumni Harvard University ini kemunduran dunia Islam disamping disebabkan karena perselisihan di kalangan umat Islam akibat perbedaan mazhab dan aliran juga karena pembuangan sains dari kurikulum madrasah sejak akhir abad ke-12. Pembuangan sains berimbas terjadi kemunduran kualitas keilmuan di Dunia Islam.
“Padahal
kemajuan dunia Islam mulai dari masa dinasti Muawiyah sampai dengan Turki
Usmaniyah dikarenakan adanya integrasi antara ilmu-ilmu agama dan sains. Para
ulama di masa lalu tidak hanya menguasai ilmu-ilmu agama saja tapi juga
menguasai sains” bebernya
Lebih lanjut menurut rektor yang juga seorang kiyai salah satu pondok pesantren
di Jawa ini, Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam mendorong umat Islam agar
mendalami dan menguasai sains disamping ilmu-ilmu agama. Ini dibuktikan dengan
banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menyuruh umat Islam untuk mengkaji
penomena-penoma yang terdapat di alam semesta. Bahkan ayat yang pertama
diturunkan saja memerintahkan umat Islam agar membaca. Dalam pengertian lain
ayat itu berbicara tentang pendidikan bukan bicara masalah agama. Inilah yang
diistilahkan olehnya dengan Ulum al-Quran. Akan tetapi seiring perjalanan
waktu, Ulum al-Quran itu terreduksi menjadi Ulum al-Arab; istilah lain untuk
menggambarkan ilmu-ilmu agama. Akhirnya di dunia Islam hari ini lebih dominan
memberikan penekanan pada pembelajaran Ulum al-Arab saja ketimbang Ulum
al-Quran.
masiih kata Prof Yuldian, Di saat dunia
Islam mengalami kemunduran, dunia barat mengalami kemajuan berkat penguasaan
pengetahuan sains mereka. Perkembangan sains yang demikian pesat di barat
memicu terjadinya Revolusi Industari Abad ke-18 yang bermula di Inggris yang
pada akhirnya mendorong bangsa-bangsa Eropa menjajah dunia timur untuk
kepentingan perluasaan pengaruh kekuasaan dan eksploitasi ekonomi.
“Sehubungan dengan itu, perguruan tinggi Islam hari ini memiliki peran penting
dan strategis untuk membangkitkan kembali kemajuan dunia Islam yang pernah
diraih di masa lalu. Upaya ke arah itu harus diawali dengan mengubah kurikulum
dengan mengintegrasikan sains dan ulum al-Arab; dalam pengertian menerapkan
Ulum al-Quran dalam arti yang sebenarnya. Sehingga perguruan tinggi Islam akan
melahirkan ulama-ulama yang tidak hanya menguasai ilmu-ilmu keislaman tapi juga
menguasai sains dan teknologi. Kalau ini bisa dilakukan, barulah derajat
(kedudukan) umat Islam akan ditinggikan” tuturnya(RDS)
Tulis Komentar