Usai Sukses di Kenduri Seni Melayu Batam 2026, Kacip Tembaga Diundang Tampil di Malaysia

$rows[judul] Keterangan Gambar : Pengurus Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning

Laporan : Muhammad Aldo


SUNGAI PAKNING, RIAU — Setelah sukses mementaskan Musikalisasi dan Teatrikal Syair Datuk Laksamana Raja Dilaut pada gelaran akbar Kenduri Seni Melayu (KSM) Kota Batam 2026, Rumah Budaya Kacip Tembaga, Sungai Pakning, Kabupaten Bengkalis, Riau, kembali menorehkan prestasi membanggakan. Wadah Pelestari Seni Budaya Melayu itu resmi diundang tampil di Selangor, Malaysia dalam Festival Pesta Dongeng Purbakala 2026 yang akan berlangsung pada 18–20 Desember 2026.

Undangan tersebut datang dari Akademi Seni Tradisional Warisan Melayu (ASTRAWAYU) yang berbasis di Selangor, Malaysia. Dalam surat yang ditandatangani pengasasnya, Dr. Dr. H.C. Joh. Johan Iskandar, ASTRAWAYU menyampaikan bahwa Pesta Dongeng Purbakala 2026 akan digelar di Dewan Hamzah, Klang, Selangor, serta Pusat Latihan Kenegaraan Meru, Jalan Paip, 41050 Selangor, Malaysia. Kegiatan berlangsung pukul 09.00–18.00 waktu setempat.

Dalam surat itu, pihak ASTRAWAYU secara khusus menjemput Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning untuk membuat persembahan berkaitan warisan Melayu. “Pihak kami menjemput kumpulan Rumah Budaya Kacip Tembaga untuk membuat persembahan berkaitan warisan Melayu,” demikian bunyi surat undangan tersebut.

Kabar ini menjadi angin segar bagi dunia seni budaya tradisional Riau. Kacip Tembaga dikenal tekun merawat warisan seni Melayu, mulai dari syair, musik tradisional, teater, hingga pencak silat. Kehadiran mereka di KSM Batam 2026 pada bulan Juli lalu, disebut sebagai salah satu penampilan paling memikat. Dalam pentas Musikalisasi dan Teatrikal Syair Datuk Laksamana Raja Dilaut, Kacip Tembaga memadukan syair klasik, musik, dan teater untuk menghidupkan kisah kepahlawanan Datuk Laksamana Raja Dilaut dari Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Ketua Dewan Penasihat Rumah Budaya Kacip Tembaga, Ridho Fatwandi, M.Pd, menyebut undangan ke Malaysia ini bukan sekadar kebanggaan, melainkan amanah besar.

“Kami bersyukur dan bangga. Ini amanah, bukan sekadar panggung. Kami akan membawa syair, musik, dan nilai-nilai warisan Datuk Laksamana Raja Dilaut ke Malaysia dengan penuh tanggung jawab. Ini juga menjadi bukti bahwa seni tradisional Riau mampu berbicara di pentas yang lebih luas,” ujar Ridho Fatwandi, Selasa (13/10/2026).

Senada dengan itu, Dewan Pendiri Rumah Budaya Kacip Tembaga, Datuk Zalfandri Zainal, A.Md.Sn., M.Pd., yang akrab disapa Mat Rock Sejangat, menegaskan bahwa penampilan di Malaysia adalah bagian dari misi diplomasi budaya. Sebagai sutradara pementasan, ia berharap doa dan dukungan dari semua pihak, terutama masyarakat Riau dan Sungai Pakning, agar Kacip Tembaga dapat tampil optimal.

“Kami berharap doa dan dukungan dari semua pihak, terutama masyarakat Riau dan Sungai Pakning, agar kami bisa tampil optimal dan mempersembahkan yang terbaik pada agenda di Malaysia bulan Desember mendatang,” ujar Mat Rock Sejangat.

Menurutnya, panggung di Malaysia bukan hanya ajang unjuk kemampuan, tetapi juga kesempatan memperkenalkan kekayaan warisan Melayu Riau ke pentas yang lebih luas. “Ini bukan sekadar pentas seni. Ini kesempatan membawa nama baik daerah dan bangsa. Kami ingin pulang dengan membawa kebanggaan, tanpa mengurangi rasa hormat kepada semua pihak yang telah mendukung kami selama ini,” tambahnya.

Diketahui, jajaran kepengurusan Rumah Budaya Kacip Tembaga saat ini terdiri dari:

· Ketua: Datuk Erwin Syah Putra, S.Psi.

· Sekretaris: Datuk Supriandy, S.Pd.

· Bendahara: Datuk Wawan Irnawan, SE.

· Timbalan I: Alfero.

· Timbalan II: Andhika.

· Dewan Pendiri: Datuk Zalfandri Zainal, A.Md.Sn., M.Pd. (Mat Rock Sejangat).

· Ketua Dewan Penasihat: Ridho Fatwandi, M.Pd.

· Anggota Dewan Penasihat: Datuk Ibenk Arrekan dan Datuk Ephan Arrahman.

Pesta Dongeng Purbakala 2026 sendiri bukan sekadar festival biasa. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang edukasi dan hiburan yang mengangkat cerita rakyat, seni tradisional, musik, tari, pakaian adat, hingga permainan tradisional. Tujuannya agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai warisan budaya Melayu. Kehadiran Kacip Tembaga di sana diharapkan memperkaya warna festival, sekaligus memperkuat jalinan budaya Indonesia–Malaysia.

Bagi Kacip Tembaga, undangan ini adalah kesempatan sekaligus tanggung jawab. Dari tepian Sungai Pakning, mereka akan melangkah ke Klang Malaysia, membawa nama Bengkalis dan Riau ke pentas negeri jiran. Jika tidak ada aral melintang, Desember 2026 akan menjadi saksi: Kacip Tembaga bukan hanya penjaga warisan, tetapi juga duta budaya yang menghubungkan Riau, Indonesia, dan Malaysia dalam satu napas Melayu.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)