Keterangan Gambar : Zalfandri Zainal, A.Md Sn, M.Pd
Oleh : Zalfandri Zainal, A.Md Sn, M.Pd
(Dewan Pendiri Rumah Budaya Kacip Tembaga / Seniman dan Budayawan Riau)
Ada ungkapan Melayu yang mengatakan, “jangan disangka batang terendam itu mati, kelak akan timbul jua.” Ungkapan ini menjadi gambaran yang tepat bagi perjalanan kesenian dan kebudayaan Melayu di tengah perubahan zaman.
Pekan Seni Budaya Melayu Kecamatan Bukit Batu dapat dimaknai sebagai sebuah upaya untuk membangkitkan kembali “batang terendam” tersebut. Kesenian tradisi yang selama ini mungkin mulai jarang ditampilkan, kurang dikenal generasi muda, dan tenggelam di tengah derasnya budaya modern, kembali diberi ruang untuk hidup.
Dalam kegiatan ini, Rumah Budaya Kacip Tembaga hadir sebagai pelaksana sekaligus penggerak. Perannya tidak hanya sebatas menyelenggarakan sebuah kegiatan seni, tetapi menjadi bagian dari ikhtiar untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan kebudayaannya. Melalui Pekan Seni Budaya Melayu, Rumah Budaya Kacip Tembaga berusaha membuka ruang bagi para seniman, pelaku budaya, tokoh masyarakat, serta generasi muda untuk bersama-sama menjaga dan menghidupkan warisan Melayu.
Pekan seni bukan hanya menghadirkan pertunjukan. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Musik, tari, sastra lisan, syair, teater, permainan rakyat, serta berbagai bentuk tradisi Melayu dapat kembali dipertemukan dengan masyarakatnya. Apa yang selama ini hanya hidup dalam ingatan para orang tua, dapat kembali dikenalkan kepada generasi muda.
Rumah Budaya Kacip Tembaga memandang bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan dengan menyimpan tradisi dalam kenangan. Budaya harus diberi ruang untuk tampil, dipelajari, dan diwariskan. Oleh karena itu, Pekan Seni Budaya Melayu Kecamatan Bukit Batu menjadi salah satu bentuk kerja kebudayaan yang bertujuan menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi dalam kehidupan masyarakat.
Kecamatan Bukit Batu memiliki kekayaan budaya yang tidak boleh hanya menjadi cerita tentang masa lalu. Di tengah perkembangan industri, teknologi, dan perubahan sosial, kebudayaan Melayu harus tetap menjadi penanda identitas masyarakatnya. Pekan Seni Budaya Melayu menjadi salah satu cara untuk mengingatkan bahwa kemajuan tidak harus membuat kita kehilangan akar.
Melalui peran Rumah Budaya Kacip Tembaga, kegiatan ini juga diharapkan menjadi ruang regenerasi. Anak-anak dan generasi muda tidak hanya ditempatkan sebagai penonton, tetapi diberikan kesempatan untuk menjadi pelaku. Mereka perlu mengenal, mempelajari, memainkan, menari, menulis, dan mengembangkan kesenian Melayu sesuai dengan zamannya, tanpa kehilangan nilai dan jati dirinya.
Namun, membangkitkan budaya tidak cukup dengan menghadirkannya di atas panggung selama beberapa hari. Yang lebih penting adalah menumbuhkan keberlanjutan. Setelah Pekan Seni berakhir, semangat untuk merawat seni dan budaya harus tetap berjalan di tengah masyarakat. Di sinilah peran lembaga-lembaga budaya seperti Rumah Budaya Kacip Tembaga menjadi penting, yaitu menjaga agar api kebudayaan tetap menyala dan tidak kembali padam setelah acara selesai.
Pekan Seni Budaya Melayu Kecamatan Bukit Batu adalah ikhtiar bersama untuk membangkitkan batang yang selama ini terendam. Rumah Budaya Kacip Tembaga, sebagai pelaksana kegiatan, mengambil peran untuk mengangkat kembali kesenian yang mulai tenggelam, memberi ruang kepada pelaku budaya, serta menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap identitas Melayu.
Sebab sesungguhnya, batang yang terendam bukan berarti telah mati. Ia hanya menunggu waktu untuk muncul kembali ke permukaan. Dan Pekan Seni Budaya Melayu Kecamatan Bukit Batu dapat menjadi salah satu ruang untuk membangkitkannya.
Karena budaya yang hidup bukan budaya yang hanya disimpan dalam kenangan, melainkan budaya yang terus diwariskan. Jika akarnya masih dijaga, maka batang yang terendam itu akan timbul jua dan kembali menjadi peneduh bagi generasi yang akan datang.***
Tulis Komentar