Keterangan Gambar : Rapat Koordinasi Panitia Festival Harmoni Budaya Nusantara FWBS bersama Upika dan sejumlah perwakilan perusahaan, Kamis (22/10/2026)
BUKIT BATU – Semangat merawat persaudaraan dalam keberagaman terus digaungkan di wilayah Gerbang Laksamana, Kabupaten Bengkalis, Riau. Panitia Festival Harmoni Budaya Nusantara (FHBN) yang digagas Forum Wartawan Bukit Batu, Bandar Laksamana dan Siak Kecil (FWBS), menggelar rapat koordinasi bersama unsur pimpinan kecamatan dan sejumlah perwakilan perusahaan, Kamis (22/10/2026).

Rapat koordinasi tersebut berlangsung di Aula Lantai I Kantor Camat Bukit Batu. Pertemuan ini menjadi langkah penting dalam mematangkan persiapan FHBN yang dijadwalkan berlangsung pada 18–20 Desember 2026 di halaman Kantor Camat Bukit Batu.

Kegiatan ini bukan sekadar membicarakan persiapan sebuah festival. Lebih dari itu, FHBN diharapkan menjadi ruang perjumpaan bagi berbagai suku, budaya, dan latar belakang masyarakat untuk saling mengenal, menghargai, serta mempererat tali persaudaraan.

Hadir dalam rapat tersebut Ketua Panitia FHBN Andi Paris, Ketua FWBS Darmayanto, Camat Siak Kecil Nicky Hotman Ramdani, SE, perwakilan Camat Bukit Batu, Sekretaris Camat Bandar Laksamana Rahmadhani, Kasi PMD Kecamatan Siak Kecil Tatang, serta Ketua Lembaga Melayu Riau (LMR) Erwin Syah Putra.
Turut hadir Supervisor PT Pertamina Patra Niaga Sungai Pakning Iswandi bersama rekan, perwakilan PT BSP M. Najib dan Sukimin, PT SSS Junaidi, PT PJM Rekase R., PT BRK Syariah Rama bersama rekan, PT Patra Jasa Abdullah, PT Sapu Jagad Taufik Hidayat, PT Bukit Intan Rizka Aprilia, pimpinan Hotel Haston Anton, pimpinan Wisma Wisata Loka Liang (Aliang), serta perwakilan Bea Cukai Sungai Pakning.
Rapat tersebut juga dihadiri Sekretaris FHBN Nurpida Dewi, Bendahara Nafisah, Ketua UMKM Hery Setiawan, Humas FHBN Juni, jajaran panitia, dan tamu undangan lainnya.
Dalam suasana penuh keakraban, seluruh pihak yang hadir menyampaikan dukungan terhadap penyelenggaraan FHBN. Dukungan tersebut diharapkan menjadi energi bersama untuk mewujudkan festival yang tidak hanya meriah, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan bagi kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat.
Andi Paris: FHBN Bukan Sekadar Festival, tetapi Rumah Bersama bagi Semua Suku
Ketua Panitia FHBN, Andi Paris, menyampaikan bahwa festival ini dirancang sebagai ruang kebersamaan yang dapat mempertemukan seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang sosial.
Menurutnya, keberagaman yang tumbuh di wilayah Gerbang Laksamana merupakan kekayaan yang harus dijaga bersama. Perbedaan budaya tidak semestinya menjadi sekat yang memisahkan, melainkan jembatan yang menghubungkan masyarakat dalam semangat saling menghormati.
“Festival Harmoni Budaya Nusantara ini bukan hanya tentang panggung pertunjukan, tarian, musik, pakaian adat, atau kemeriahan acara. Ada cita-cita yang lebih besar yang ingin kita bangun, yakni bagaimana seluruh suku bangsa yang hidup di daerah ini dapat duduk bersama, saling mengenal, saling menghargai, dan merasa menjadi bagian dari keluarga besar Gerbang Laksamana,” ungkap Andi Paris.
Ia menjelaskan, panitia tengah mematangkan berbagai aspek teknis pelaksanaan, mulai dari rangkaian pertunjukan seni budaya, keterlibatan paguyuban dan komunitas masyarakat, pemberdayaan pelaku UMKM, hingga dukungan sarana dan prasarana dari berbagai pihak.
Andi juga mengajak pemerintah, perusahaan, tokoh adat, komunitas budaya, pemuda, dan masyarakat luas untuk mengambil bagian dalam menyukseskan kegiatan tersebut.
“Kami menyadari bahwa panitia tidak mungkin berjalan sendiri. Festival ini membutuhkan gotong royong, kepedulian, dan dukungan semua pihak. Kami berharap perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah ini dapat ikut menjadi bagian dari sejarah baik ini. Sebab, yang ingin kita bangun bukan hanya sebuah acara selama tiga hari, tetapi kenangan dan semangat persaudaraan yang bisa bertahan jauh setelah festival berakhir,” tuturnya.
Darmayanto: Perbedaan Bukan Alasan untuk Berjarak
Ketua FWBS, Darmayanto, menegaskan bahwa penyelenggaraan FHBN merupakan bagian dari upaya membangun kehidupan masyarakat yang lebih harmonis melalui pendekatan jurnalistik, kebudayaan, dan kolaborasi lintas sektor.
Ia menilai, wilayah Gerbang Laksamana memiliki kekayaan sosial yang luar biasa. Masyarakat Melayu hidup berdampingan dengan masyarakat Batak, Minangkabau, Jawa, Tionghoa, Bugis, Sakai, dan berbagai kelompok lainnya yang turut memberi warna dalam kehidupan daerah.
Keberagaman tersebut, katanya, harus dirawat melalui kegiatan yang membuka ruang dialog, memperkuat rasa saling percaya, dan menumbuhkan kebanggaan terhadap kebudayaan masing-masing.
“Bagi kami di FWBS, harmoni bukan berarti semua orang harus sama. Harmoni justru lahir ketika kita berbeda, tetapi tetap saling menghormati. Kita boleh memiliki bahasa, adat istiadat, dan tradisi yang berbeda, tetapi kita tinggal di tanah yang sama, mencari kehidupan di daerah yang sama, dan memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kedamaian,” ujar Darmayanto.
Ia menyebutkan, rapat koordinasi ini merupakan bagian penting dari upaya membangun sinergi sejak awal. Melalui pertemuan tersebut, panitia ingin memastikan bahwa pelaksanaan festival mendapat dukungan dan keterlibatan berbagai unsur, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Darmayanto juga berharap FHBN menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara pemerintah, dunia usaha, insan pers, komunitas adat, pelaku seni, dan masyarakat.
“Kami ingin ketika festival ini berlangsung, masyarakat tidak sekadar datang untuk menonton. Mereka datang membawa kebanggaan terhadap budayanya, pulang dengan mengenal budaya orang lain, dan membawa pesan bahwa persaudaraan jauh lebih besar daripada perbedaan. Itulah warisan yang ingin kita tinggalkan untuk generasi berikutnya,” tambahnya.
Camat Siak Kecil: Jaga Persatuan Melalui Kebudayaan
Camat Siak Kecil, Nicky Hotman Ramdani, SE, menyampaikan dukungannya terhadap rencana penyelenggaraan FHBN. Ia memandang kegiatan kebudayaan sebagai salah satu sarana positif untuk mempererat hubungan masyarakat sekaligus menumbuhkan penghargaan terhadap kekayaan tradisi Nusantara.
Menurutnya, persatuan tidak cukup hanya disampaikan melalui slogan. Persatuan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk dengan memberikan ruang bagi masyarakat untuk saling mengenal dan berinteraksi dalam kegiatan yang membawa manfaat bersama.
“Kami menyambut baik kegiatan Festival Harmoni Budaya Nusantara ini. Kegiatan seperti ini memiliki nilai penting karena mengajak masyarakat untuk melihat keberagaman sebagai kekuatan. Ketika masyarakat saling mengenal budayanya, tumbuh rasa hormat, dan dari rasa hormat itulah persaudaraan dapat semakin kuat,” ungkapnya.
Ia berharap pelaksanaan FHBN dapat dipersiapkan secara matang, melibatkan berbagai unsur masyarakat, serta memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial dan perekonomian warga.
Nicky juga mengajak masyarakat untuk menjadikan festival tersebut sebagai ruang kebersamaan yang menjunjung tinggi nilai persatuan, ketertiban, dan semangat gotong royong.
Sekcam Bandar Laksamana: Kolaborasi Menjadi Kunci Keberhasilan
Perwakilan Camat Bandar Laksamana, Sekretaris Camat Rahmadhani, turut menyampaikan dukungan terhadap penyelenggaraan FHBN.
Menurutnya, keberhasilan sebuah kegiatan yang melibatkan banyak unsur sangat bergantung pada komunikasi, koordinasi, dan kemauan untuk bekerja bersama. Karena itu, rapat koordinasi yang melibatkan pemerintah kecamatan, perusahaan, tokoh masyarakat, dan panitia menjadi langkah yang tepat.
“Kami mendukung upaya yang dilakukan panitia untuk menghadirkan kegiatan kebudayaan yang menyatukan masyarakat. Harapan kita, festival ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga mampu mempererat hubungan antarmasyarakat dan menumbuhkan kebanggaan terhadap budaya Nusantara,” ujarnya.
Ia berharap sinergi yang telah terbangun dapat terus dijaga hingga pelaksanaan kegiatan selesai, sehingga FHBN menjadi agenda yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di wilayah Gerbang Laksamana.
Pertamina Patra Niaga Sungai Pakning: Harmoni Harus Dirasakan Masyarakat
Perwakilan PT Pertamina Patra Niaga Sungai Pakning, Supervisor Iswandi, menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif panitia yang berupaya menghadirkan festival kebudayaan dengan semangat persatuan.
Menurutnya, kegiatan yang melibatkan masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan memiliki arti penting dalam membangun hubungan sosial yang positif di lingkungan sekitar wilayah operasional perusahaan.
Ia menilai, kebudayaan dapat menjadi sarana untuk mempertemukan banyak pihak dalam suasana yang penuh penghormatan dan kebersamaan.
“Kegiatan yang mengangkat kebudayaan dan persatuan masyarakat seperti ini merupakan inisiatif yang baik. Harapan kita, melalui FHBN, masyarakat semakin dekat, semakin mengenal satu sama lain, dan semakin kuat semangat gotong royongnya,” ungkap Iswandi.
Ia berharap koordinasi antara panitia, pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dapat terus berjalan dengan baik, sehingga festival dapat terlaksana secara tertib dan memberikan manfaat yang luas.
Dukungan tersebut juga diharapkan menjadi dorongan bagi semakin banyak pihak untuk terlibat dalam kegiatan yang memperkuat keharmonisan sosial serta melestarikan kekayaan budaya daerah.
BRK Syariah: Budaya dan Kebersamaan Adalah Investasi Sosial
Dukungan juga disampaikan PT Bank Riau Kepri Syariah Cabang Sungai Pakning melalui Tengku Yuwandi. Ia menyambut positif rencana penyelenggaraan FHBN yang dinilai memiliki nilai penting dalam mempererat hubungan sosial sekaligus memberikan ruang bagi kreativitas masyarakat.
Menurutnya, festival budaya tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga dapat membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk, memperluas jaringan, dan meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kami menyambut baik kegiatan yang membawa semangat persatuan, kebudayaan, dan pemberdayaan masyarakat. Harapannya, FHBN dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan potensi terbaiknya, termasuk bagi para pelaku UMKM, sehingga manfaat kegiatan ini dapat dirasakan secara lebih luas,” ujar Tengku Yuwandi.
Ia berharap festival tersebut dapat menjadi momentum yang mempertemukan nilai kebudayaan dengan semangat kemajuan ekonomi masyarakat, tanpa meninggalkan jati diri dan tradisi yang telah diwariskan turun-temurun.
UMKM dan Kebudayaan Berjalan Beriringan
Selain memperkuat harmoni sosial, FHBN juga diharapkan menjadi kesempatan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mengambil bagian dalam kegiatan. Kehadiran UMKM dapat memperkenalkan produk lokal sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi selama festival berlangsung.
Ketua UMKM FHBN, Hery Setiawan, bersama jajaran panitia diharapkan dapat mendorong partisipasi para pelaku usaha agar festival memberikan manfaat yang lebih luas, bukan hanya bagi penampil seni, tetapi juga bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari kegiatan ekonomi lokal.
Dengan keterlibatan pemerintah, perusahaan, komunitas budaya, pelaku UMKM, dan masyarakat, FHBN diharapkan berkembang menjadi perayaan bersama yang mempertemukan kebudayaan dan kesejahteraan masyarakat.
Merawat Persaudaraan, Mewariskan Keharmonisan
Rapat koordinasi tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga keberagaman bukanlah tugas satu kelompok saja. Ia merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan ketulusan, kepedulian, dan kesediaan untuk berjalan beriringan.
Festival Harmoni Budaya Nusantara yang akan digelar pada 18–20 Desember 2026 di halaman Kantor Camat Bukit Batu diharapkan menjadi panggung bagi beragam kebudayaan untuk tampil berdampingan, bukan saling meniadakan.
Di tengah perbedaan bahasa, adat, tradisi, dan cara hidup, terdapat nilai yang menyatukan: keinginan untuk hidup damai, membangun masa depan yang lebih baik, dan mewariskan lingkungan yang penuh persaudaraan kepada anak cucu.
Sebab, pada akhirnya, keberhasilan sebuah festival tidak semata-mata diukur dari megahnya panggung atau ramainya pengunjung. Ukuran yang lebih bermakna adalah ketika masyarakat pulang dengan hati yang lebih terbuka, penghargaan yang lebih besar terhadap sesama, serta keyakinan bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk berpecah belah.
Dari Gerbang Laksamana, FHBN membawa satu pesan sederhana namun mendalam: berbeda suku, berbeda budaya, tetapi tetap satu keluarga dalam bingkai Nusantara.
Persaudaraan dirawat bersama, kebudayaan dijaga bersama, dan keharmonisan diwariskan untuk generasi mendatang.(Tim)
Tulis Komentar