Ukir Identitas Melayu di Bangku Sekolah : LAMR Bengkalis Garap Kurikulum Budaya untuk Generasi Muda

$rows[judul] Keterangan Gambar : Pertemuan Tim Pengembang Kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Budaya Melayu Riau (BMR) ini dipimpin langsung oleh Datuk Seri Syaukani Al Karim

BENGKALIS — Di ruang rapat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis, semangat melestarikan warisan budaya terasa mengalir deras. Para tokoh adat, sastrawan, dan praktisi pendidikan duduk bersanding, merancang jalan untuk menanamkan kebanggaan akan identitas Melayu Riau ke dalam ruang-ruang kelas. Di meja diskusi, mereka tak hanya membahas silabus, tetapi juga menggali cara agar generasi muda tak kehilangan akar budayanya di tengah arus globalisasi.

Pertemuan Tim Pengembang Kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Budaya Melayu Riau (BMR) ini dipimpin langsung oleh Datuk Seri Syaukani Al Karim, Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Bengkalis. Dengan suara lantang penuh keyakinan, ia menekankan: "Negeri kita negeri beradat. Kurikulum ini bukan sekadar mata pelajaran, tapi jalan untuk menjaga jiwa Melayu tetap hidup di hati anak-anak kita." buka Syaukani.

Syaukani, yang juga dikenal sebagai budayawan dan penulis, mengakui proses pengembangan kurikulum masih berjalan. Namun, optimisme terpancar saat ia menyebut target penyelesaiannya agar bisa diterapkan secara menyeluruh mulai PAUD hingga SMA pada tahun ajaran mendatang.

 "Kita tak boleh ketinggalan. Dari 40% konten lokal Bengkalis, kita akan masukkan kearifan 11 kecamatan—mulai dari seni bertutur, kuliner, hingga filosofi hidup masyarakat pesisir," tambahnya, didampingi sejumlah tokoh kunci seperti Datuk Abdul Vattaah dan Ketua TPK Datuk Musa Ismail.


**Antara Peluang dan Tantangan**  

Meski semangat menggelora, jalan tak sepenuhnya mulus. Datuk Musa Ismail mengungkap fakta di lapangan: minimnya guru khusus BMR, belum adanya buku teks standar, hingga masalah teknis seperti ketiadaan kolom mata pelajaran ini di sistem e-rapor.

 "Siswa belajar budaya Melayu, tapi nilai tak tercatat resmi. Ini seperti memetik bunga tapi tak bisa memakainya," ujarnya tersirat ironi.

Namun, kabar baik datang dari Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 3 Tahun 2021 yang menjadi payung hukum. Langkah konkret pun dirancang, termasuk menyiapkan modul budaya Melayu untuk Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Juli 2025.

 "Kita ingin siswa baru langsung merasakan denyut budaya sejak hari pertama—lekatkan identitas Melayu melalui nyanyian, cerita rakyat, atau tata krama," papar Musa Ismail


**Menyelam ke Mata Air Kearifan Lokal**  

Syaukani menegaskan, Bengkalis ibarat mutiara yang menyimpan ribuan cerita. Dari ritual tolak bala masyarakat pesisir, seni menggambar, bebelanja, hingga tradisi lisan nenek moyang yang sarat makna. "Ini harta karun yang harus diwariskan. Bukan sekadar hafalan, tapi pemahaman bahwa budaya adalah napas kehidupan," tegasnya.

Tim pun bersiap mengarungi lautan tugas: menginventarisasi kekayaan budaya, menyusun pedoman guru, hingga berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan. Harapannya, pada 2026, buku teks Mulok BMR sudah bisa dibawa siswa ke sekolah—dengan ilustrasi warna-warni tentang keunikan Bengkalis.

Sebagai penutup, Syaukani berpesan dengan nada haru: "Jika kita tak mulai sekarang, suatu hari nanti anak cucu hanya akan mengenal budaya Melayu dari museum. Jangan biarkan itu terjadi." Doa pun mengalir: "Semoga Allah Taala memudahkan jalan ini." Tuturnya.

Di luar jendela, angin Selat Melaka berhembus seolah menyambut tekad mereka—membawa harapan agar gelombang modernisasi tak mengikis jati diri yang telah bertahan selama berabad-abad. (Humas LAMR Bengkalis)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)