PT KPI RU II Sungai Pakning Kembangkan Inovasi SIPEKASolusi Atasi Tingginya Kadar Air Madu Gambut

$rows[judul]

 Sungai Pakning, 12 Desember 2025— Tingginya kadar air menjadi tantangan utama dalam produksi madu di ekosistem gambut yang lembap. Kondisi ini kerap membuat madu tidak memenuhi standar mutu nasional, memicu fermentasi, menurunkan kualitas, serta membatasi akses pasar bagi petani madu. Masalah tersebut dialami oleh Kelompok Madu Biene di Desa Tanjung Leban, yang selama ini menghasilkan madu dengan kadar air di atas ambang batas maksimal 22 % sebagaimana ditetapkan dalam standar nasional. Akibatnya, madu sulit dipasarkan secara luas dan harga jual cenderung menurun.

PT Kilang Pertamina Internasional RU II Sungai Pakning mengembangkan inovasi teknologi tepat guna bernama SIPEKA (Sistem Pengurang Kadar Air pada Madu). Inovasi ini dirancang untuk membantu petani madu gambut memperoleh produk berkualitas tanpa merusak karakteristik alami madu.

SIPEKA bekerja dengan sistem pemanasan terkontrol yang memungkinkan penguapan kadar air secara bertahap dan stabil. Metode ini menjaga aroma, warna, kandungan enzim, serta nutrisi madu tetap terpelihara. Atas kebaruan dan nilai inovatifnya, teknologi SIPEKA telah terdaftar paten dengan nomor S00202515057.

Manager Production PT KPI RU II Sungai Pakning, Ririanti Safrida, menjelaskan bahwa prinsip kerja SIPEKA mengadaptasi sistem pengendalian proses yang selama ini digunakan di kilang minyak.

“Di kilang, kami terbiasa mengendalikan suhu dan waktu proses secara presisi untuk memisahkan komponen fluida tanpa merusak kualitas produk. Prinsip yang sama kami terapkan pada SIPEKA, di mana panas diberikan secara terkontrol dan bertahap agar kadar air dalam madu dapat diuapkan perlahan, tanpa merusak aroma, warna, maupun kandungan enzimnya,” jelas Ririanti.

Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi kunci agar madu tetap mempertahankan karakteristik alaminya, namun mampu memenuhi standar mutu nasional.

“Kalau suhunya terlalu tinggi, kualitas madu bisa rusak. Karena itu, seperti di kilang, kami mengatur parameter prosesnya dengan ketat agar hasilnya konsisten dan aman. Dengan proses yang lebih terkendali, petani bisa memanen sesuai jadwal dan menghasilkan kualitas madu yang konsisten. Ini penting agar produk masyarakat bisa bersaing di pasar” tambahnya.

Hasil pengujian laboratorium di Universitas Riau menunjukkan efektivitas inovasi tersebut. Kadar air madu jenis Trigona sp berhasil diturunkan dari 28,42 persen menjadi 20,27 persen, sementara madu jenis Apis dorsata turun dari 26,75 persen menjadi 17,88 persen. Secara rata-rata, SIPEKA mampu menurunkan kadar air madu hingga 7–8 persen dan memenuhi ketentuan SNI 8664:2018. Saat ini, inovasi SIPEKA telah dimanfaatkan oleh Kelompok Madu Biene untuk pengolahan madu dari berbagai jenis lebah, seperti Apis mellifera, Apis cerana, dan Trigona sp. Peningkatan kualitas madu tersebut berdampak langsung pada perluasan pasar dan kenaikan pendapatan anggota kelompok.

Melalui pengembangan inovasi SIPEKA, PT KPI RU II Sungai Pakning menjawab perannya dalam menghadirkan solusi berbasis teknologi yang menjawab persoalan riil masyarakat, sekaligus mendorong pengelolaan sumber daya gambut yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi.(WIN)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)