Oleh : Zulfan Fahmi, S.Pd
Prodi : Magister Pedagogi Universitas Lancang Kuning
Guru : Seni Budaya SMP SMA SMK Plus Terpadu
Kegiatan Kamis Pentas Seni merupakan program sekolah yang dilaksanakan secara rutin sebulan sekali sebagai wadah ekspresi dan kreativitas peserta didik. Melalui kegiatan ini, siswa SMP, SMA, dan SMK Plus Terpadu diberi ruang untuk menampilkan beragam potensi seni, seperti tari, vokal solo, vokal grup, pencak silat, pantun, teater singkat, dan bentuk kreativitas lainnya. Pelaksanaan yang berkelanjutan menjadikan pentas seni tidak sekadar acara seremonial, melainkan bagian dari proses pendidikan yang menumbuhkan keaktifan, kepercayaan diri, serta kemampuan sosial dan emosional peserta didik. Dalam kegiatan ini siswa bebas mengkreasikan penampilan, sementara pada proses latihan siswa mendapatkan bimbingan langsung dari guru seni budaya sebagai penanggung jawab kegiatan pentas seni.
Keaktifan peserta didik SMP, SMA, dan SMK Plus Terpadu dalam kegiatan pentas seni menjadi bukti nyata bahwa seni memiliki daya tarik kuat sebagai media pendidikan sosial dan emosional. Antusiasme siswa terlihat dari keterlibatan mereka dalam berbagai bentuk pertunjukan, seperti tari, vokal solo, vokal grup, pencak silat, pantun, teater singkat, hingga bentuk seni lainnya. Proses kreatif ini menunjukkan bahwa peserta didik tidak hanya menjadi objek pendidikan, tetapi juga subjek aktif yang berinisiatif, berani mengekspresikan diri, serta mampu bekerja sama lintas jenjang dan latar belakang kemampuan.
Semangat berkreasi tersebut sejalan dengan teori student active learning yang menekankan pentingnya keaktifan peserta didik dalam proses belajar. Melalui pentas seni, siswa SMP Plus Terpadu belajar membangun keberanian dan percaya diri sejak dini, siswa SMA Plus Terpadu mengasah kemampuan ekspresi dan kerja sama yang lebih kompleks, sementara siswa SMK Plus Terpadu mengintegrasikan kreativitas dengan keterampilan vokasional dan profesionalisme. Kolaborasi lintas jenjang ini memperkuat pembelajaran sosial, karena peserta didik belajar saling menghargai, membimbing, dan belajar satu sama lain dalam suasana yang inklusif dan humanis.
Keberagaman jenis penampilan dalam pentas seni juga memperkaya pengalaman emosional peserta didik. Seni tari melatih kepekaan rasa dan kedisiplinan tubuh, vokal solo dan vokal grup mengembangkan keberanian serta kemampuan mengelola emosi saat tampil, pencak silat menanamkan nilai sportivitas dan pengendalian diri, pantun melatih kecerdasan verbal sekaligus pelestarian budaya, sementara teater singkat mengasah empati melalui peran yang dimainkan. Seluruh pengalaman ini memperkuat pandangan bahwa pentas seni merupakan ruang belajar multidimensional yang efektif dalam membentuk peserta didik yang aktif, kreatif, dan berkarakter.
Dari perspektif konstruktivisme sosial Lev Vygotsky, pembelajaran terjadi melalui interaksi sosial dan kolaborasi. Pentas seni menciptakan zona perkembangan proksimal di mana peserta didik saling membantu, belajar dari teman yang lebih mampu, serta berkembang melalui bimbingan guru. Dengan demikian, pentas seni menjadi ruang belajar sosial yang mendukung perkembangan kognitif sekaligus afektif peserta didik.
Dalam konteks pendidikan nasional, pemikiran Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan harus menuntun segala kekuatan kodrat anak agar tumbuh secara alami dan bermakna. Seni, sebagai bagian dari budaya dan ekspresi manusia, memiliki peran strategis dalam pendidikan yang memanusiakan manusia. Pentas seni yang dikelola secara pedagogis sejalan dengan prinsip ini karena menghargai potensi, perasaan, dan pengalaman peserta didik.
Tulis Komentar