Keterangan Gambar : Syaukani Alkarim
Oleh : Syaukani Alkarim
(Seniman dan Budayawan Riau)
Entah mengapa, dari sekumpulan sajak yang saya kirim di awal tahun 1992, halaman sastra Sagang, Riau Pos, memilih sajak dengan judul “Palestina”, untuk dimuat. Itulah sajak pertamaku yang dimuat oleh media massa, di luar Koran Kampus, Bahana Mahasiswa.
Aku tertarik menulis Palestina, karena di awal tahun 90-an itu, konflik Israel-Palestina memanas. Sama panasnya dengan berita berakhirnya perang dingin akibat keruntuhan Uni Sovyet di bawah kepemimpinan Gorbachev, dan tumbangnya tembok Berlin. Perubahan mendasar dalam hegemoni politik internasional, membuat konflik Palestina-Israel kian memanas, terlebih setelah Israel melanggar kesepakatan, dan proses perdamaian yang digagas, seperti Oslo Accord [Perjanjian Oslo], dan Kesepakatan Ghaza-Jericho.
Hampir setiap hari, ada berita tentang Palestina dan tanahnya yang terjajah, baik di koran harian, maupun majalah. Bahasan tentang Palestina selalu disertai gambar para korban, maupun pejuang intifadah, yang melawan tentara dengan batu. Lebih dari itu, pembahasan tentang Palestina pula, mengambil begitu banyak halaman, dari studi Hubungan Internasional yang sedang kupelajari. Hari ini, ingin kudedaahkan kembali sajak itu:
PALESTINA [1]
Palestina, adalah deru debu dalam badai
segudang tangis dan secebis tawa
menyatu dalam peluru yang singgah
di shabra shatila dan jalur ghaza
anak anak berwajah kumal
berlarian ke sana ke mari
tangan tangan terkembang, tapi tak pegang apa apa
tangan tangan terkembang
tapi tak dapat menyulam peca, dari retak tahun tahun silam
hanya menunggu mati
dari pingsan kemarin yang tak pernah bangun
jangan tanya semangat
anak anak telah berkata dengan batu di tangan
ribuan nyawa rela mengukir kata
dalam intifadah yang lengah
namun Palestina,
hanyalah darah
Januari, 1992.
PALESTINA [2]
Palestina adalah banjir airmata
dinding-dinding Baitul Maqdis
menjadi tempat para seniman menulis syauir kematian
puing-puing dan kehancuran
menjadi tempat sufi meratapi dosa
jangan kau tanya sejarah
di sini Adam membuka kisah
mencecah tanah dari langit yang marah
Musa menyapu resah membelah merah
di sini Isa merajut jiwa
dalam letih tak henti merajut kasih
Muhammad membawa risalah
mengantar fitrah membawa arah
tapi tak ada bangsa
tak ada merdeka yang menari
dalam tidur panjang para martir di kuburan tak bernisan
Tak ada bangsa
bangsa pecah dalam hizbullah, dalam Maronit, dalam Yahudi
Palestina,
hanya kisah perjuangan
Februari 1992.
Tulis Komentar