Jefri Al Malay Pimpin Dewan Kesenian Riau 2025–2030, Kacip Tembaga Bangga Salah Satu Penasehatnya

$rows[judul]

Pekanbaru – Dunia seni budaya Riau memasuki babak baru dengan terpilihnya Jefrizal Al Malay sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR) masa khidmat 2025–2030. Sosok yang dikenal konsisten memperjuangkan nilai-nilai budaya Melayu ini dipercaya mampu membawa arah baru bagi perkembangan seni di Bumi Lancang Kuning.

Terpilihnya Jefrizal Al Malay mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan seniman dan budayawan. Ia dinilai memiliki visi kuat untuk menjadikan Dewan Kesenian Riau sebagai wadah yang inklusif, progresif, sekaligus menjaga marwah budaya Melayu sebagai identitas utama Riau.

Dalam sambutannya, Jefrizal menegaskan komitmennya untuk menjadikan DKR sebagai motor penggerak kreativitas dan ruang kolaborasi lintas bidang.

“Seni adalah jati diri dan kekuatan peradaban. Dewan Kesenian Riau harus menjadi rumah besar bagi para seniman, sekaligus mitra strategis pemerintah dan masyarakat dalam merawat serta mengembangkan kebudayaan,” ujar Jefrizal.

Dukungan dan rasa bangga juga datang dari Rumah Budaya Kacip Tembaga Sungai Pakning, yang diketuai oleh Erwin Syah Putra bersama jajaran pengurusnya, yakni Sekretaris Suprandi, Bendahara Wawan Irnawan, dan Wakil Ketua Andhika.

“Kami dari Rumah Budaya Kacip Tembaga turut bangga dan mengucapkan selamat kepada Bang Jefri. Beliau bukan hanya tokoh penting di Dewan Kesenian Riau, tapi juga bagian dari keluarga besar Kacip Tembaga, karena beliau duduk sebagai salah satu dewan penasehat bersama Zalfandri Zainal alias Mar Rock, Ridho Fatwandi, dan Beni Setiawan alias Iben. Tentu ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami,” ungkap Erwin Syah Putra.

Erwin menambahkan, terpilihnya Jefrizal diharapkan menjadi momentum kebangkitan seni Riau. Sinergi antara seniman, budayawan, dan masyarakat diyakini semakin kuat untuk membawa nama Riau ke kancah nasional bahkan internasional.

Kepengurusan DKR 2025–2030 ini diharapkan mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar budaya lokal. Seni modern, tradisi, dan budaya digital akan menjadi fokus utama agar Riau tetap eksis di tengah derasnya arus globalisasi.(WIN)

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)