Keterangan Gambar : Sayed Junaidi Rizaldi
Di tengah stigma lama yang kerap melekat pada Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, publik hari ini justru sedang menyaksikan sebuah fase pembenahan yang tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Apa yang terjadi belakangan ini bukan sekadar dinamika biasa, melainkan indikasi kuat bahwa institusi ini mulai berani “membersihkan rumahnya sendiri” secara terbuka.
Di bawah kepemimpinan Djaka Budhi, arah kebijakan terlihat lebih tegas, tidak ada lagi kompromi terhadap praktik-praktik lama yang merusak kredibilitas lembaga. Penindakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK ) termasuk kasus yang menyeret sosok seperti Rizal Fadillah, mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) Bea Cukai, ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK terkait dugaan suap importasi barang, justru harus dibaca sebagai sinyal keberanian, bukan kelemahan. Hanya institusi yang mulai sehat yang berani membuka boroknya sendiri ke publik.
Ironisnya, masih ada pihak yang menjadikan kasus-kasus tersebut sebagai bahan untuk mendiskreditkan keseluruhan institusi. Cara pandang seperti ini jelas keliru dan cenderung malas berpikir. Sebab, fakta yang tidak terbantahkan adalah, kinerja penerimaan negara dari sektor kepabeanan dan cukai justru melonjak signifikan. Dari kondisi minus sekitar 5 persen, kini berbalik menjadi pertumbuhan positif hingga 8 persen. Ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari kerja sistematis, pengawasan diperketat, kebocoran ditekan, dan tata kelola diperbaiki.
Di titik ini, negara tidak boleh bersikap setengah hati. Jika keberanian membongkar praktik internal dan keberhasilan meningkatkan penerimaan negara tidak diapresiasi, maka pesan yang dikirim justru berbahaya, bahwa integritas tidak ada nilainya dalam sistem birokrasi.
Sudah saatnya pemerintah mengambil sikap tegas. Kinerja seperti ini bukan hanya layak dipuji, tetapi pantas diberi penghargaan konkret, baik dalam bentuk penguatan posisi, promosi jabatan, maupun mandat yang lebih besar. Sebab, reformasi tidak lahir dari retorika, melainkan dari keberanian mengambil risiko.
Jika figur-figur yang bekerja nyata seperti ini tidak didorong naik, lalu siapa lagi ? Jangan sampai birokrasi justru memberi ruang bagi mereka yang bermain aman, tetapi menutup mata terhadap perubahan.
Momentum perbaikan di Bea Cukai sedang terjadi. Dan seperti semua momentum penting dalam sejarah birokrasi, ia hanya akan bertahan jika negara cukup berani untuk berpihak.
**Sayed Junaidi Rizaldi*
- Ketua Umum Rembuk Nasional Aktifis 98
- Ketua Umum Gerakan Indonesia Gemilang
Tulis Komentar